Dina's Journal

daily thoughts and activities

Sunday, March 11, 2018

(Kejadian ini berlangsung sudah cukup lama. Siapa tahu di kemudian hari ada part 2-nya)

Suatu malam di hari kerja urusanku sudah beres, jam menunjukkan pukul 20.25. Aku pun bergegas ke tempat parkir sembari menyusuri pinggiran Jalan Kemanggisan Raya yang macet itu. Tak lama ada langkah kaki kecil yang dengan gesitnya melewatiku dari arah bersebrangan. Cepat seperti angin.

Aku menoleh ke belakang untuk melihat gerangan yang baru saja melangkah sebegitu cepatnya. Kulihat anak kecil bertelanjang kaki dengan karungnya membuka tutup tong sampah dan mengais-ngais dalam tong tersebut. Aku pun melanjutkan langkahku.

Kepikiran.

Aku sudah begitu dekat dengan kendaraan hingga akhirnya aku memutar arah menyusuri jalan yang sama. Anak itu tidak terlihat lagi. Apa iya secepat itu meninggalkan Jalan Kemanggisan Raya ini? Aku bertanya pada Bapak-Bapak yang sedang duduk di warung pinggir jalan.

“Pak, lihat anak kecil yang bawa karung barusan lewat sini tidak? Pergi ke arah mana ya dia?”

“Oh anak kecil pemulung yang suka bawa karung ya Dek? Tadi kayaknya saya liat deh. Tapi saya nggak perhatikan dia ke mana. Memang dia jam segini jalan di daerah sini.”

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Kususuri jalan itu sekali lagi. Dan ketika ada gang aku menoleh ke gang tersebut. Gotcha! Di sanalah dia lagi memilah tumpukan sampah.

Usai memilah sampah, dia berjalan keluar gang menuju ke arahku.
“Halo Dek, sudah makan belum? Makan yuk sama kakak.”

Dia memperhatikanku beberapa detik. Lalu menjawab “Boleh”

Ternyata di Jalan Kemanggisan malam itu rumah makan sedang tutup. Yang tersisa hanya tempat makan yang terang nan kekinian namun yang dijual hanyalah indomie, roti bakar, dan sebangsanya.

“Yang buka hanya ini , Dek. Pilih saja kamu mau makan apa. Kakak pesan minum saja, sudah makan koq”

Ia memilih indomie dan susu Milo dingin.

Dimas. Begitu dia mengatakan namanya usai memesan makanan. Dimas bersekolah kelas 2 SD dan tinggal di perkampungan pemulung di daerah Jakarta Barat.

Makanan datang dan aku mengutuk mengapa orang yang memasak hal sepele seperti Indomie saja tidak bisa. Mienya sudah mekar bagai sudah tergenang di mangkok beberapa jam. Melihatnya saja aku sudah tidak nafsu. Dan benar, Dimas tidak menghabiskan makanannya. Tapi dia menghabiskan Milo dinginnya.

“Maaf, Kak tidak habis. Udah kenyang”
“Ya. Tidak apa-apa. Apa rumah Dimas jauh dari sini?”
“Ya, masih lumayan. Tapi nanti dijemput Bapak”
“Dijemput di mana?”
“Nanti ketemu di tengah jalan. Bapak Dimas kan mulung juga. Nanti pasti ketemu. Tiap malam kayak gitu koq.”
“Kalau ga ketemu gimana?”
“Pasti ketemu koq.”
“Trus kamu tiap hari pulang semalam ini, besoknya kan sekolah. Apa nggak capek di sekolah?”
“Nggak koq. Kan Bapak pake gerobak. Jadi nanti kalo udah ketemu Bapak, Dimas tidur di gerobak sampe rumah. Biasanya juga udah ga bangun lagi, Bapak yang gendong ke tempat tidur.”

Jleb.

Langsung terbayang jaman aku macet-pacitan di daerah Jakarta, terus ga sengaja lihat Ibu2/Bapak2 yang dorong gerobak beserta anak-anaknya yang sedang tertawa-tawa senang di atas gerobak yang sedang didorong itu. Di tengah ibukota. Di tengah lautan motor dan mobil.

Mereka masih kecil hingga tak terlalu memusingkan mengapa orang lain bawa motor, bawa mobil, sedang mereka naik gerobak. Namun kalau sudah besar, mereka akan sadar dan lebih besar kemungkinan menjadi minder sehingga menutup pemikiran untuk maju dan bercita-cita. Begitulah biasanya lingkaran kemiskinan mengulang.

Di satu sisi, aku juga malu. Pada waktu itu aku lagi merengek ingin ganti mobil sedangkan bagi Dimas, dia tidak komplen gerobaknya merupakan kendaraannya yang bisa membuatnya tertidur pulas sembari ayahnya mengantarkannya ke rumah. Betapa aku termasuk kaum yang tidak bersyukur.

“Lalu bagaimana Ibumu? Dimas punya kakak atau adik?”
“Ibu sama Bapak sudah pisah. Ibu pergi dari rumah bareng kakak-kakak Dimas. Dimas anak paling kecil. Cuma Dimas yang tinggal sama Bapak. Semuanya ikut dengan Ibu.”

Aku udah speechless bagian ini. Ingin rasanya menangis. Tapi nggak mungkin lah depan anak kecil ini. Teringatku data-data perceraian di Indonesia yang tidak semuanya terdata. Karena bercerai, bahkan menikah pun butuh uang. Apa kabar bagi mereka yang miskin?

“Dimas, Kakak ada beberapa buku anak-anak. Kakak akan pinjamkan ke Dimas. Besok malam Kakak tunggu di Circle K ya dari jam 8 atau kalau Dimas sampe jam setengah 9 pun ga masalah. Kita juga bisa makan lagi”

Dimas tidak menjawab dan dia pun tidak menatapku. Pandangannya lurus dan seperti sedang mengawang-awang. Mungkin dia tidak tertarik buku. Mungkin juga dia pikir aku bohong. Mungkin dia akan datang. Atau juga tidak.

Esok malam, usai pulang kerja aku menunggu di Circle K dengan beberapa buku dan snack juga susu. Dua jam lebih aku menunggu hingga hampir pukul 10 malam. Dimas tidak datang.

---

Di pekerjaan baruku, saya punya harapan bisa berkontribusi dalam membantu atau bahkan meminimalisir Dimas-Dimas lain. Memang masih terlalu awal untuk mengatakan ini. Tapi tulisan ini juga sebagai pengingat mengapa saya berada di posisi sekarang, apa yang membuat saya termotivasi untuk bekerja lebih dan positif sekaligus optimis sebagai solusi dari Dimas. Semoga.

Thursday, February 22, 2018

Saturday, February 03, 2018

Lagi iseng browsing Youtube, nemu video ini:


Dream wedding gue banget ini siiiiiiih!!!!!

Ehm, yes, I’ve already married.

Throwback to my wedding day compared to that awesome wedding vid.

Pertama, venue. Saya suka banget pantai. Namun karena menikah di Tangerang jadi mustahil banget nikah di pantai (Pantai Tanjung Kait, anyone?)

Teringat dulu ceritanya bener-bener mau ngurus pernikahan berdua saja sama Faisal. Tanggal sudah ditetapkan. Kita nyari venue tiap weekend. Tiap abis survey, ditanyain laporannya sama Mamah dan kita selalu belum nemu yang pas. Akhirnya Mamah gemes sendiri, hingga beliau ngikut survey weekend berikutnya. Dan kita langsung deal hahahaha.

Kedua, tamu undangan. Pengennya siiih.. keluarga dekat dan teman-teman aja. TAPI KELUARGA AKUH BATAK. Ya gimana dong.. pasrah lah itu tamu undangan udah pasti paling banyak dari orangtua, mertua, sisanya penganten. Pasrah.

Ketiga, baju. Pengen sih saya pake gaun yang laid-back gitu macam di video kawinan di atas. Tapi baju adat saya juga suka koq. Jadi ga terlalu ekstrim lah ini. I still wore my dream wedding dress.

Keempat, ya wedding singer-nya lah! Gilak! Kalo kawinan saya dinyanyiin sama Jens Lekman bisa pingsan kali, trus bangun lagi, trus joget-joget lupa hari itu mau kawin. So damn lucky nih penganten YouTube. So sweet gitu lagi spouse-nya yang contact Jens Lekman. Mungkinkah suatu hari Faisal ngasih surprise kek gitu ke gua HAHAHHAHAHHAHA *baper.

Ada yang lucu sih tentang band di kawinan saya. Jadi dulu saya dan Faisal suka nge-date di mall-mall Tangsel dan kami suka liat band yang selalu bawain lagu The Beatles lengkap dengan seragam ala-alanya. Band-nya bawain lagunya bagus pokoknya spesialis The Beatles banget deh (lupa namanya siapa). Kita udah sepakat pengen pake band tsb pas kawinan. Namun pas disodorin paket Wedding udah include sama band yah akhirnya kita iyain aja (mureh).

Nah, saya diminta bikin playlist tuh sama EO-nya. Buat list maksimal 20 lagu kalo ga salah yang kemungkinan sih ngga akan dimainin semua. Sekitar belasan lah, jadi buat priority gitu. Hal tsb bagian yang menyenangkan sekaligus membingungkan. Untung saya anaknya masih Top 40 gitu kan, jadi ga Peer banget nyuruh anak orang latian lagu baru semua sampe 20 lagu hahahha.

Pas udah buat list-nya, saya liat request lagu saya ini terlalu beragam. Kan biasanya kalo kawinan tuh pilihannya antara pake grand piano atau acoustic-an gitar. Dari playlist yang saya buat, lagu-lagunya itu fifty-fifty: setengah bagusan pake piano, setengah pake gitar. 

Mengingat di venue tuh disediakan grand piano segede gaban. Otomatis saya berpikir nggak mungkin disia-siakan lah itu aset kawinan. Akhirnya saya memutuskan untuk memangkas lagu-lagu gitaran dan fokus sama lagu-lagu melodius yang cantik kalo dimaenin pake piano. Dan menyisakan satu lagu pamungkas di akhir, itu adalah.. “Rude”-nya Magic hahahahhaha.

“Saturday morning jumped out of bed..and put on my best suit..” Asik beet lah

Udah kasih note segala ini poko’e lagu pamungkas paporit penganten yang harus dimaenin pas akhir acara.

Mungkin si pemain band-nya pada bingung kenapa pake lagu itu ya, apa nih penganten ga direstuin orangtua hahahha bodo ah. Saya emang suka aja lagu itu. 

Dan seperti yang diduga, karena lagunya tuh banyak melodi yang putus-putus gitu kayak tet tet tet tet yang cuma enak kalo dimaenin pake gitar. Begitu dimaenin pake piano.. jadinya garing 

*antiklimaks*

Overall, despite all the imperfections of my wedding day, i still feel grateful for that day. The day when i married to someone I love, best partner in life God has given.


"If I had to choose a moment in time

To take with me into eternity
I would choose this,
This moment with you in my arms"

(Into Eternity - Jens Lekman)

Sunday, December 10, 2017

I feel very lucky whenever I get tired going back home from work, I still can smell and cuddle with my husband. Then I feel the most relaxing feeling in the world.

Suddenly “Your Arms Around Me” by Jens Lekman plays in my mind.




Sunday, December 03, 2017

Hola!

Mau update blog tapi nggak tahu mau nulis apa. Saking banyaknya kisah yang sudah terlewat lol. Life, work, marriage, relationships, feelings, self-development (ah ya, saya lagi tertarik dengan topik ini). Berhubung lagi bersihin bookmarks Chrome, nemu quote Good Will Hunting. Saya taruh di akhir postingan ini yaa.

Good Will Hunting, lupa lupa inget film tentang apa. Matt Damon yang nulis script sekaligus pemainnya. Duet sama sahabatnya, Ben Affleck. Kalau ga salah, tentang Will, orang jenius yang karena dia hidup sebagai kelas pekerja, orang2 pada awalnya meremehkannya. Hingga akhirnya dia ketemu mentor, seorang professor gitu. Konflik dengan sahabatnya, Ben Affleck and the genk. Dan Will yang socially awkward ini juga punya masalah percintaan. Doi menolak jadi vulnerable because of love. Semacam itu lah.

 “Sometimes I wish I had never met you, because then I could go to sleep at night not knowing there was someone like you out there.” 
― Gus Van SantGood Will Hunting

Friday, December 16, 2016

Pertanyaan sejuta dolar (kalau ada yang mau ngasih).

Sebagai pasutri menikah 2 tahun, saya lumayan mengalami berbagai situasi yang dihadapkan dengan pertanyaan di atas. Berikut sampel jawaban-jawaban yang bisa digunakan sebagai referensi. Ada yang berdasar kenyataan maupun referensi internet. Semoga bermanfaat.

Ini nemu di blog orang. Jawaban epic yang masih cocok diberikan sebagai respons ke orang yang lebih tua

Hong: Kong, Kapan kamu hamil?
Kong: Minggu depan, Tante. Kalau nggak hujan.
--

Jawaban kalau lagi nggak mood tapi masuk akal (banget).

Hong: Kong, Kapan lo punya anak?
Kong: Lah elo, kapan mati?

Sesungguhnya manusia lahir, menikah, hamil, dan mati adalah rahasia Allah. Jadi sah-sah aja sih jawab begitu. Ngerasa ditanya balik kapan mati kasar? Jadi kapan ngelahirin nggak kasar ya? Hmm, persoalan.
--

Dua jawaban epic itu belum pernah saya pake sih. Tapi mayan buat referensi kalo kepepet. Saya sendiri mengalami pertanyaan sejuta dolar itu beberapa kali. Yang berikutnya tanya jawabnya dari pengalaman pribadi ya :)

Mantan teman sekantor dulu pernah nanya one million dolar question tersebut 3 bulan sejak saya menikah.

MT (Mantan Teman) : Din, udah hamil belom lu?
SC (Saya Cantik) : Belom.
MT : Napa lo belom hamil? Sengaja nunda?
SC : Hmm, ya begitulah.
MT : LAAH NGAPA NUNDA?? KARMA LU nanti mandul ga bisa punya anak!
SC : ...

Tersinggung nggak? Iya, sedikit. Lebih banyak KASIANNYA sih sama orang narrow-minded kek gitu. Secara saya cantik dan pintar, jadi saya mengerti bahwa semua orang itu punya resiko dalam kehidupan ini. Mau nikah cepet nikah atau lama kek, hamil umur 16 atau umur 50 kek, resiko seperti mandul, keguguran, hamil kembar 6, melahirkan anak dengan kebutuhan khusus, dan  sebagainya adalah bagian dari roda kehidupan. Everyone has their own battle in marriage. So just keep your mouth shut because you don’t really know what other marriage couples have gone through.

Waktu masih tinggal di Karawaci, salah satu security menyapa gue,

Security (SC): Selamat siang, Ibu.
Saya (S) : Siang, Pak.
SC : Jam segini belum berangkat, Bu. Suami Ibu udah berangkat. Ibu kerja di mana?
S : Di Jakarta, Pak.
SC: Anaknya kok nggak dibawa, Bu?
S: Saya belum punya anak, Pak.
SC: Oh, maafkan saya, Bu. Saya nggak bermaksud menyinggung.
S: Nggak apa-apa (sambil senyum ramah, no hard feeling at all)
SC: Maafkan saya Bu
S: ....
SC: Sekali lagi maafkan saya, Bu. *sambil bungkuk-bungkuk*
S: .....

Udeh orang kayak gini nggak usah di apa-apain lagi dan nggak penting diceramahin. Dia beda frame sama kita dan entah kenapa dia udah nggak enakan duluan. Daripada gue komentar nambah rasa nggak enak dia, yaudah diriku berlalu dengan senyum saja. Maafkan aku juga, Pak.

Atau beberapa kasusnya seperti ini
Teman (T) : Din, udah hamil belom?
Saya (S) : Belum
Teman (T) : Gini nih caranya.. Pas lu gituan sama laki lo, posisi lu blabalala, atau balbala. Manjur dah!

Atau saran untuk gue perlu ke dokter secepatnya buat cek kenapa belum hamil juga setelah dua bulan menikah --“

Iyah itu pas awal-awal menikah gue masih polos. Dan kenapa yah kalau gue jawab “belum” dengan maupun tanpa kasih keterangan lanjutan terkadang masih aja dibahas di moment tertentu.
--

Akhirnya saya menemukan jurus (lumayan) ampuh untuk menghadapi situasi tersebut,
Question (Q): Din/Mbak, udah punya anak?
Answer (A): Belum Bu/Mbak/Cin AHAHAHA *itu loh ketawa awkward yang bener ketawanya kek baca teks AHAHAHA
Q: Kenapa?
A: AHAHAHHA
Q: Nunda ya?
A: AHAHAHHA
Q: ... (udah males nanya)

Lebih ampuh lagi kalo ada suami saya deketan. Jadi biasanya saya sama suami akan pandang2an sambil ketawa AHAHAHHA dan si penanya akan merasa awkward dan ganti topik AHAHAHHA.

Lebih sering juga, saya yang ditanya trus suami saya yang kebetulan lagi deket dan denger langsung jawab, “ini saya udah” sambil ngelus2 perut buncitnya. Suami saya tuh tuh sebel kalau di rumah saya panggil gendut, sekalipun dengan nada manja. Tapi di tengah2 orang untuk menghindari saya dari situasi awkward dia mengorbankan diri dengan memamerkan perut buncitnya di depan umum *terharu
--

Kalau lagi asik.
Teman (T) : Din, udah hamil belom?
Saya (S) : Belum. Mau namatin majalah Cosmopolitan dulu.
T : ?
S : 12 gaya bercinta dalam setahun. Jadi tiap bulan ada 1 gaya baru.
T : HAHHAHAHHAHABANGKEEEEE HAHHAHAHAan****%$I&^65w8745e67w

Btw ini majalahnya.


Saturday, June 21, 2014

Minggu, mama dan papa minta diajak ke tanah abang. Mau beli sarung untuk acara adat di rumah sekaligus cari juga buat THR karyawan. Kami bertiga berencana naik KRL (Kereta Rel Listrik atau yang biasa disebut commuterline). Pukul 10 kami melaju ke stasiun Rawa Buntu, parkir mobil, lalu membeli tiket KRL.

Ini pengalaman pertama mama papa masuk stasiun Rawa Buntu, biasanya mentok nganter saya di parkiran stasiun. Tak lama menunggu, kereta datang. Udah padat manusia, kami pun berdiri. Hehehe kasian juga sih bawa orangtua baru pertama kali naik KRL langsung nyoba situasi berdiri. Yah, tapi memang begitulah keadaannya.

Mama yang kayaknya antara shock sekaligus excited nggak henti-hentinya nanya ini itu ke saya mengenai situasi di dalam KRL. Hingga akhirnya seorang penumpang memberi tempat duduk ke mama saya karena sepertinya ia tahu mama perdana naik KRL. Hehe, thanks mbak.

Sampai di pusat perbelanjaan Tanah Abang, kami menuju basement 1 blok A. Putar-putar sebentar kami pun menawar 2 kodi sarung di sebuah toko yang bisa memberi harga yang paling miring. Nggak miring-miring amat sih, tapi dia kasih harga paling murah lah dibanding kios-kios lain. Nama tokonya Yassir, letak di Blok A Lt. B1 Los B No. 36 Tanah Abang.

Toko Yassir, sedia sarung, sajadah, baju koko, dll

Berhubung 2 kodi kain sarung itu banyak banget, masing-masing dari kita bertiga udah banyak tentengan. Tapi si mamah sempet-sempetnya nanya mamang-mamang sarung di mana tempat belanja nyari bahan. Eh buset, saya dan si papah liat-liatan dan langsung mencerahkan si mamah bahwa BAWAAN KITA UDAH BANYAK BANGET GITU LOH DAN INI NGANGKOT, EH NGRETA. Alhamdulillah, si mamah insyaf dan setuju untuk bergegas pulang.

Kami memutuskan naik bajaj ke stasiun Tanah Abang. Tarifnya 15 ribu (kalo dari pintu yang paling ujung). Cuma muterin satu blok jalan doang sih. Terus naiklah ribuan tangga menuju stasiun Tanah abang. Abis beli tiket buat mama papa yang antriannya puanjang rek, kita buru-buru masuk peron ngejar kereta menuju Serpong. Udah mana banyak banget bawa belanjaan, lari-lari ngejar kereta, eh pas udah tinggal lompat masuk kereta, saya dan mama baru nyadar,si papa dari tadi nggak ngikutin kita di belakang...

Saya langsung taruh belanjaan, buru-buru naik ribuan tangga dan menyapu pandangan ke sudut stasiun. Antara panik tapi geli. Panik karena hadeh bawa aki-aki ke Tanah Abang malah ngilang. Geli karena iya, ini ilangnya di stasiun Tanah Abang yang 2 menit lalu kita lari bertigaan ngejar kereta. Kalo ilang di stasiun Tugu Jogja atau di bandara JFK USA mungkin saya akan pusing setengah mati. Tapi ini di stasiun di daerah Jakarta yang si papah lebih paham Jakarta dibanding saya, Tanah Abang gitu. Hehehe.

Pas saya lagi scanning orang-orang di stasiun terlihatlah si papah datang menghampiri dengan muka tertawa geli. Saya tertawa balik. Kami buru-buru turun dan menghampiri mamah yang jagain belanjaan. Kami akhirnya keburu naik kereta dan tertawa terpingkal-pingkal sambil berdiri di KRL. What a shiny day..


Sunday, June 01, 2014

Tahun ini termasuk sering juga saya berkunjung ke Ancol.

Minggu kemarin tanggal 25 Mei, saya ke sana (lagi) bareng Faisal. Bangun jam 4 pagi, jemput Faisal, sampe Ancol setengah 7 terus kita lari pagi di EcoPark. Saya yang jarang lari dipaksa disemangati Faisal buat lari satu putaran. Lumayan yah, kelar lari mau muntah. Hahaha. Dasar saya nggak pernah olahraga, eh disuruh lari, bisa aja sih. Udahannya kayak orang sakaw.

Abis itu kita mandi di depan danau monumen (bukan di danaunya, tapi di toilet umum, dan terpisah juga pastinya, hahaha). Terus main ke Pasar Jatinegara nyari souvenir. Udah ada ide, tapi belum deal sih. Pulangnya, makan all you can eat di Hanamasa. Asiiik, abis dipaksa lari terus ditraktir makan. Terimakasih, sayaaaang (tapi itu kalori apa kabar ya?)

Selain Ancol minggu lalu, banyak juga sih Ancol-Ancol yang lain. Pertama kali kalo nggak salah, pulang dari kondangan siapaa gitu. Sama Faisal malas pulang. Bosen juga kalo main ke mall. Lalu kita memutuskan ke Ancol malam itu. Ke pizza hut. Hahaha. Ceritanya sih makan pinggir pantai, tapi makan pizza  -,-“

Terus, saya ke Ancol lagi pas arisan bareng teman-teman. Dora dapat arisan dan ingin berkunjung ke Sea World. Udah lama nggak ke sana, jadi seru aja sih.

haus kasih sayang gurita 

Lalu ada lagi Ancol yang mengawali persiapan kita menuju pernikahan. Aheeey.

Hari libur, saya punya voucher masuk Sea World (lagi-lagi Sea World, demen banget neng liat kuda nil). Kelar pacaran di Sea World dan ditontonin ikan piranha (iya, ikan piranhanya yang nontonin kita hahaha), kita masuk Ocean Dream yang banyak pertunjukan hewannya.

romantisme ocean dream

Ngga semuanya bagus. Ada juga yang kurang cucok kalau ditonton bocah-bocah. Lawakan si pawangnya kurang edukatif, bikin jengah. Masak seolah-olah make-out gitu sama anjing laut. Cih. Yang seru sih liat pertunjukan lumba-lumba sama putri duyung yang aslinya perenang handal. Jadi ada jalan ceritanya gitu, kerajaan bawah laut mau diserang sama gurita raksasa. Lalu lumba-lumba bantuin ikan duyung berjuang melawan pasukan gurita yang jahat. Yah, begitulah. Visually amusing ;)

Abis itu, kita jalan-jalan bentar di pantai daaaannnn, jeng, jeng, jeng, acara utamanya berlangsung di Pizza Hut Ancol (lagi?). Abis pesan makan, Faisal dan saya mengeluarkan buku notes kita masing-masing. Apa sih isinya?

Isinya adalah 100 hal yang pengen kita lakuin even after we’re married.

The List
2 bulan sebelumnya,
F: “ih,100 ga kebanyakan?”
D: “ya nggaklah, kan biar nggak ada yang kelewat. Awas lu. Wajib kerjain secepatnya!”

6 minggu kemudian,
F: “list gue udah selesai nih. Lu udah kan?”
D: “belom. Dear, 100 banyak amat. Nulis apaan yak isi list-nya?”
F: “yeeeh kan gue udah bilang. Lu yg nyuruh juga. Isi aja per sub bab. Kayak ttg marriage, mimpi lu, ttg rumah, anak, dll”

Akhirnya selesai bikin list dan mau kita reveal persamaan dan ketidaksamaan.

Saya sudah bilang sama Faisal sebelumnya, kalau-kalau saya agak menyesal juga mengusulkan hal macem bikin list gitu. Takut menyulut amuk massa. Secara dari 100 list yang saya tulis, apa Faisal akan mengatakan “yes” atas semua poinnya. Kecil kemungkinan. Begitu pula sebaliknya.

Eh tapi ternyata, revelation itu berlangsung cukup cepat. Meeennn, dari 100 poin itu ada kali setengahnya Faisal menulis hal yang sama. Dari yang penting bangeeeet, kayak gimana karir saya ke depan setelah saya jadi Ibu sampe yang penting aja, kayak sama-sama pengen ketemu Doraemon dan melihat aurora.

cuplikan the list

Amazing yah. Jalan bareng selama 3 tahun lebih, ternyata kami menjelma jadi satu sama lain (bingung ga?). Saya banyak terpengaruh sama Faisal, pun sebaliknya. Mungkin makanya kalau orang yang sering bersama-sama, jadi terlihat mirip mukanya (kata orang, jodoh mukanya mirip). Kalau muka saya sih ga mirip sama Faisal. Tapi ada sesuatu dari diri saya yang jadi menyerupai dirinya. Begitu juga sebaliknya (harus dong, hohoho).

Sebelum menutup malam yang cukup memberikan insight tentang masa depan kami, saya menaruh 1 poin yang bisa diwujudkan dalam waktu dekat di list terakhir: saya ingin dilamar.

“Hmmm, mungkin abis lebaran ibu gue baru bisa dateng.” Sambil mukanya serius banget mikir. Saya jadi ga enak meng-interrupt. Padahal sih, maksud dilamar itu maksudnya yang kayak klise-klise gitu lohhh. Kayak di film-film. Pake ditanya,“WYMM?”.

Yah, jadi sayangku kalau dirimu baca tulisan ini, ada tuh satu mimpi aku yang bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Lamar aku, in a proper way.  

Saturday, May 17, 2014

Hubungan perpacaran ini naik satu tingkat ke level yang lebih serius. Horeee...

Gimana semua ini berawal? Jadi pada suatu malam, saya mengendap-endap ke kamar Faisal sambil membawa pisau. Lalu ku arahkan ke lehernya ketika ia sedang tertidur, “Lu mau gua gorok atau mending kawinin gua akhir taun 2014?” dia milih ngawinin saya 2014.

Nggak deng. Semua ini berawal dari... saya. Iya, saya pengen nikah. Judul awalnya sih, nikah sama siapa aja nggak penting. Saya pengen berkeluarga. Prioritas utama ya sama pacar saya lah. Kebetulan dia mau. Semenjak itulah drama menghampiri hubungan kami dengan intens.

Awal 2014 ini sih tepatnya. Semenjak saya tahu saya ingin menikah, tetiba radar saya sensitif banget. Selalu berpikir, “Apa dia orang yang tepat? Kriteria seperti apa sih orang yang saya ingin jadikan suami? Dst. Dst.” Dari situlah standar saya.. naik.

Saya banyak komplain sama orang yang udah saya pacarin 3 tahun lebih ke belakang. Hal-hal tentang Faisal yang saya toleransi sebelumnya, jadi masalah buat saya. Ini itu sedikit saya ngambek. Bumi jadi gonjang-ganjing. Saya jadi punya kriteria tersendiri tentang suami idaman. Dan dia.. menerima.

!!!

Saya sendiri nggak percaya dengan apa yang saya dengar. Saya nyaris meminta dia untuk ngubah kepribadian loh. Yang mana permintaan itu benar-benar bagaikan pedang bermata dua. Kalau dia ga mau nurutin keinginan saya, wes bye-bye. Kalau iya dia mau nurutin saya, saya juga kecewa berat. Kenapa? Saya ingin laki-laki yang punya prinsip. Meski saya tukang ngatur, saya nggak ingin mengatur laki-laki (sedemikian rupa, tulisan ini bisa disadur kemudian hari, iya saya senang mengatur sebenarnya). Saya ingin dipimpin laki-laki. Saya nggak suka lelaki loyo, sujud di hadapan wanita. Saya ingin pria berkarakter, lelaki yang kokoh. Yang ada atau tidak ada saya, selalu bisa menjadi versi terbaik dari dirinya.

Jadi mau saya apa sih? Mungkin suami idaman saya itu Bruce Wayne alias Batman.

Setelah urusan berantem itu beres. Pacar akhirnya meyakinkan saya secara logis bahwa dia loh laki-laki itu. Datang lagi badai yang lain. Pacar saya, ehm, melanggar prinsip saya yang lain. Yang dia yakin, saya belum pernah mengatakan aturan main prinsip saya tersebut. Hellooooww... saya pikir hal itu aturan main utama dalam menjalin hubungan saya sejak awal. Mengetahui Faisal melanggar prinsip dasar tersebut di tahun keempat kami pacaran benar-benar bikin saya patah arang. Saya minta putus.

Faisal saat itu tengah mengerjakan (tepatnya memimpin) proyek di kantornya. dia harusnya sedang fokus. Setelah beberapa kali permintaan putus dan penolakan putus, akhirnya dia sms: “Kalau hanya ingin berpisah, jangan datang malam ini. Karena besok hari penting buat gue, please jangan lu rusak.”

...............

Sediiiiiiiih banget baca sms itu.

Karena, saya nggak pernah berniat ngehancurin hidup Faisal walau hanya satu detik. But i did.
Teringat pepatah “Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari biar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.”

Saya tidak dalam posisi itu. Sengaja pergi agar dicari, sengaja lari biar dikejar. I kid you not. The truth is, I love him. I do. Dan yang saya pengen dari Faisal ialah, dia happy. Terutama dari itu, saya pengen Faisal maju. Saya nggak pernah pengen sekalipun jadi batu penghalang dalam hidup dia. Dan hal terakhir yang paling tidak saya inginkan adalah melihat Faisal sedih. Saya pengen jadi pelangi di langitnya setelah hujan reda. Saya pengen jadi oase di tengah padang gurun yang gersang. Saya ingin jadi lebah yang membantu putik menemukan benangsarinya. Saya bisa menemukan ribuan pengandaian kalau saya ini, diri saya, hanya ingin membuat hidup dia lebih.. ah apapun kata-kata positif yang tertanam di benak Anda, para pemirsa.

Jadi malam itu saya menemuinya. Saya cukup gemetar mengingat saya menyadari bahwa saya amat menyayanginya sehingga membantu saya untuk menyampingkan semua ego saya. Faisal yang nggak tahu saya datang malam itu untuk berdamai, tampak grogi juga. Setelah pembicaraan singkat malam itu, kami sama-sama tersenyum. Dan dia kembali dengan terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Saya tahu, saya siap. Saya ingin berjuang bersamanya melebihi hari ini, melebihi hari-hari yang telah lewat.

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.