Saturday, November 21, 2009

love should

Sekitar 3 minggu yang lalu, kakakku menceritakan seorang teman yang juga kukenalnya. Ia berkata bahwa orangtua temannya itu divorced sejak ia kecil. Dan keduanya sekarang sudah memiliki pasangan hidup yang baru. Anehnya, saya sudah terbiasa mendengar fakta-belakangan-yang-saya-tahu-semacam-itu.

Orang-orang dekat di sekitar kehidupan saya ternyata banyak yang merupakan anak dari single parent. Kayaknya rentetan fakta ga enakin ini dimulai dari saya SMA. Ex saya suatu hari bilang ke saya, orangtuanya divorced sejak ia SMP atau SD gitu (lupa). Saya yang sangat polos semasa SMA tidak mempunyai referensi untuk hal-hal semacam itu. which was, ANJRIT GUA KAGET BANGET! saya akui, saya shock parah. Saya norak karena mengira bahwa perceraian hanya dialami artis-artis kayak di infotainment-infotainment itu. orang biasa, nggak ada yang bercerai. Nikah itu jaminan loe nggak bakal hidup sendiri karena terikat seumur hidup sama seseorang. Nyatanya enggak.

Lalu, saya terjun ke dunia kuliah yang membuka mata saya tentang dunia selebar-selebarnya. Jauuuhhhhhh banget dengan apa yang saya pikir semasa SMA. Saya lalu berteman dengan seorang cewek, tau-taunya dia bilang kalo dia cuma tinggal bareng emaknya karna orangtuanya udah divorced jaman dia kecil. Nah, si cewek ini jatuh cinta sama temanku juga, yang ternyata, anak dari single parent juga. Mereka sempat jadian.

Saya pun lalu berpacaran dengan seseorang yang ternyata hidup terpisah sama orangtuanya. Ibunya di suatu tempat dan sudah menikah lagi. Sedang ayah kandungnya udah nggak di dunia ini. Kalo nggak salah, serentetan fakta tersebut saya ketahui dengan jeda waktu yang pendek. Saya sempat stress sama dunia. Sama kenyataan.

Lalu saya menelepon seorang teman dekat, menceritakan apa yang saya rasakan. Ga taunya, dia malah cerita kalo orangtuanya ngga akur. Nggak sampe divorced tapi nyaris dan si anak terebut udah merasa mereka kayak divorced (threshold, mungkin). Kisah ini nggak berenti sampai di situ.. teman baru saya ternyata orangtuanya divorced, ayah si X selingkuh, teman kakakku si Y lagi mau cerai, si X selingkuh. Biasanya lelakinya duluan yang selingkuh. KENAPA WAHAI PARA LELAKII? KENAPAAA…

Ok. Saya frustasi sama pernikahan. Hahhah.

Kenapa manusia diciptakan berpasangan?

Kalo kamu nggak tau atau nggak menemukan jawaban atas sesuatu, bertanyalah pada ahlinya. Kalo kamu frustasi sama kehidupan , bertanyalah pada ahli kehidupan, yakni Sang Pemilik Kehidupan itu sendiri. Allah swt. Kamu bisa baca Al-qur’an. Di sana ada SEMUA rules-nya tentang kehidupan. Kalo kamu frustasi tentang pernikahan, tanyalah sama ahli pernikahan.. emak gue.

Pernah suatu hari, ketika lagi mengupas bawang, saya bertanya sama si mamah yang sama-sama di dapur menyiapkan sarapan. “Ma, orang nikah tuh apa nggak bosen ya? Bangun tidur di pagi hari, buka mata, terus ngeliat sebelahnya, “Buset! Dia lagi dia lagi!” Nggak bosen apa?”

Si mamah tertawa. Dia ngomong panjang. tapi saya lupa. Hahahhah. Intinya, nikah tuh kamu nggak sekedar janji sama diri kamu maupun janji sama pasangan kamu kalau kamu bakal bareng dia sehidup semati. Tapi juga janji sama Tuhan. Edan kan... JANJI. SAMA.TUHAN.

Lagian, kalo udah merit, tantangannya bukan bosen atau nggak tapi tiap hari ada aja tantangan-tantangan baru. Sampe sekarang si mamah pun masih mengalami hal-hal baru. Walau udah seumur sekarang hidup bareng si papah. Gada yang ngebosenin. Abis itu si mamah bilang, “mamah dan papah tu udah saling janji, kalau salah satu dipanggil duluan (sama Tuhan) kita nggak bakal nyari pasangan baru. Biar nanti kita ketemu lagi di surga.” Huhuhuhu, mengharukan ya.

Udah gitu si mamah ngelanjutin, “makanya ya Dina, kalau mama ‘pergi’ duluan kamu yang harus ngerawat papah. Bukan malah nyariin istri baru buat Papa biar ngerawatnya. Tapi harus kamu. Biar mama papa ketemu lagi di surga. Kalo papa nikah lagi, kan nanti nggak ketemu.”

“yahh, dia malah nge-tag aku hehehe”

Hari itu, kayaknya saya diberi pencerahan yang luar biasa oleh si mamah. Yea, dukungan internal (keluarga) alias keteladanan bisa jadi perisai atas pengaruh negatif yang datang dari luar/lingkungan. Thank God my mom's still together with my dad. Hal itu karunia nggak terkira bagi seorang anak.

Memang, beberapa waktu yang lalu saya pernah kesal dan ngambek terhadap mereka (mamapapa) karena mereka yang –menurut saya- terkadang cara berpikirnya masih konservatif. Tapi toh, manusia hanya melihat kekurangan di atas kelebihan mereka. Yea, orangtua saya memang bukan tipe orangtua yang bisa saya bagi rasa ketika saya jatuh cinta, ketika saya senang karena saya dapat kado dari teman, atau ketika saya sedih ketika putus sama pacar.

Mereka bukan seperti itu. meski saya ingin -sangat. Tapi saya sadar, terkadang kamu nggak bisa mengubah, err, you know,, you can’t fix the universe. But you can change your perspective. Jadi saya belajar menerimanya. Menerima orangtua saya apa adanya dan beradaptasi dengan hal itu. haha.

Beradaptasi dengan orangtuamu terdengar sangat lucu. But see the bright side, banyak anak yang memang harus beradaptasi dengan orangtua “baru” mereka. Bahkan ada yang tidak tinggal serumah dengan salah satu (ibu/ayah) orangtua mereka. Boro-boro bisa bicara daily things atau curhat. Bahkan ada yang tidak ingat gimana wajah orangtua mereka sendiri. huhuhu.. how lucky I am!

2 komentar:

muhammad rizqy anandhika said...

hmm..jadi mau cerita juga nedin. mantan gw juga broken home. semula gw kira ga bakal gmana2 ke pacaran kita. eh taunya yg namanya cewe ya..mud2nya kebawa2 klo pacaran. cape bgt, dengerin curhat si dengerin, tapi kliatan maksa..cape lah.
gw baru sadar mungkin itulah alesan orng milih pacaran sama cewe yg berkeluarga 'sehat'.
klo dipikir2 mening klo org mo cerai pas anaknya masih kecil lah..blm ngerti anaknya. tapi siapa juga yg niatin cerai?haha.sekian curhat gw

Dina TSH said...

tetep aja ada efek ke anaknya. gue pikir, gue ga perlu panjang2 ngejabarin di sini karna lu sama gue udah satu frame dalam hal itu. hahhah. thx curhatnya.