Sunday, April 25, 2010

Kenapa Online?

Percakapan berikut terjadi di rumah seorang teman, Naila, beberapa bulan yang lalu. Saat itu saya menginap di rumahnya dan meminjam laptop, numpang online. Dulu, urutan aktivitas online saya adalah buka email kemudian sign in Yahoo Messenger. Selalu begitu.

Naila (mengintip aktivitas online saya) : Nedin, avatar YM lu jelek!
Saya : sialan.. (sambil liat avatar sendiri). Tapi emang iya jelek si.
Naila : Hahaha.
Naila (lagi, kali ini dengan nada lebih tinggi) : Hah Nedin! Ko temen YM loe dikit banget.
Saya : ….
Naila : Kalo temen YM gue malah banyak banget. Sampe gue grup-in. teman SMA, IF, blablablabla.
Saya : ….
Naila : Nedin.
Saya : ….

Memang, contact list di YM saya tidak banyak. Saking tidak banyaknya sampai tidak perlu saya kelompokkan. Karena tiap OL, yang tersisa (OL juga) paling tidak lebih dari sepuluh orang. Dan tiap baru sign in, saya akan sibuk meng-invisible-kan diri dengan orang-orang tertentu. Pada akhirnya, saya selalu chatting dengan teman sehari-hari saya, yang hampir tiap hari ketemu muka. Ha. Lalu komentar seorang Naila membuat saya berpikir, “ngapain ya gue online?”

Saya sendiri tidak begitu suka melakukan komunikasi dengan teman-teman melalui YM maupun facebook. Tidak begitu suka melakukan komunikasi di dunia maya. Karena, yeah, selalu ada jutaan orang available di dunia macam ini. Sedangkan di dunia nyata hanya orang yang kamu kenal dan benar-benar peduli padamu yang datang, bicara, dan seterusnya.

Tapi email sepertinya masih tertolong. Karena hanya kamu yang bisa baca dan orang-orang yang menulis di email benar-benar meluangkan waktu untuk lawan bicaranya (si subject). Tidak seperti YM yang bisa saja sepintas lalu. Atau facebook yang.. oh.. semua orang bisa baca gitu. Dan karenanya tidak pernah ada orang yang sejati menjadi dirinya di situs semacam itu. Semua karena motif: orang lain bisa lihat. Ya ya bahkan diblog saya pun saya merekayasa karena ada motif tersebut.

Saya juga lebih suka melakukan komunikasi melalui sms dibanding YM atau facebook. Saya pikir, komunikasi memang tidak gratis. Dan dari situ, keliatan kan siapa yang lebih niat melakukan komunikasi hahaha. Saya tahu tidak semua orang berpendapat sama. Mungkin di era digital dan internet seperti sekarang, orang-orang maupun teman-teman saya sendiri lebih memilih yang cepat dan murah (dan kurang bermakna –menurut saya). Kadang saya kangen dengan era telepon umum, telepon rumah, di mana semua orang yang menelepon harus bertarung secara psikologis dengan orang rumah yang ngangkat telponnya (seringkali orangtua hehe).

Balik ke YM, sesudah insiden percakapan pembuka tulisan ini, saya pun tidak pernah sign in YM lagi. Hingga akhirnya.. baru-baru ini.. tampaknya saya harus mengikuti perkembangan jaman. Welcome back Yahoo! Messenger.

In some ways, I think I’m kind of old-fashioned girl.

2 komentar:

blahblagadah said...

hoo makanya ko skarang ente sring onlen. ane mo nyapa tapi bingung ngomong apa. hehe. mending kite imel2an

Dina TSH said...

yoi yoa darma (??!)